Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Lessons fr parents’ Category

Picture tells thousand words. Bumped to the old pictures and made me feel like writing.. ^^

I was a naive-teens struggled to pursue my higher study after completing senior high school. I was badly hopping to get into university in Australia. There were days when my friends mostly managed to decide their choices going to Germany, US, Singapore, Malaysia, etc, while I still went from one to the other education exhibitions in town, collecting the pamphlets and calculating the tuition as well as living costs.
It reminds me of the tough time since I got no support from parents of going to Australia. They wanted me to stay in hometown with couple of reasons, particularly in financial issue.
However, I finally managed to convince my strict daddy to go at least to Jakarta. ^^
My cousins were there, and they helped me in the sense of convincing my daddy for the tragic riot case as well as the overview of the expenses. Thanks to them! On the other side, my daddy always wants us to propose and manage our finance. So, even he’s convinced, he still need me to make kind of proposal, finding out the cost that he needs to cover for the bachelor degree. Yes, different families have different way of teaching the kids. As I went to a private school with pretty many well-off families background students, most of my friends had no burden to even think of the money. Some of them were even got decided from parents where to pursue their studies. Frankly I felt how easy and lucky their lives were, they didn’t even need not to think about the cost. But at the time passed by, I’m truly thankful for the process that I went through until what I am now. At the end of the day, my daddy approved my proposal. He sold the car and I got funded for half of the total cost of university in advance. It’s very nostalgic moment, I even kissed the car before it was given to the buyer since the car had given so many memories for my family.

As the only daughter and the first time to be away from parents, my daddy went to Jakarta accompanying me to make sure everything’s settled. We went on ship, operated by P.T. Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) which took us 3 days 2 nights to reach Jakarta. There’re lot of things I learned during the journey. I made new friends and knowing the fact that we would go to the same university. What an unforgettable experience.

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

A Piece of advise from my idolized-mommy as always.

Human might have the same black-coloured hair, but who’s gonna know what’s inside their heart… You should wisely distinguish who are the ones you can rely on as your friends and who are your enemy that’ll harm you..
Always be aware when meeting any new people, never put much belief instantly as the journey of your life is still far ahead..

Actually mom wanna remind me to be aware for the new acquaintances and be aware in every single moment. Yup, I can be so friendly to anybody, but sometimes this will lead the boomerang effect to me. So I will take this advise for myself and for you who find it’s reasonable.

Read Full Post »

Since I was a kid, daddy has started training us the importance of managing the money for our unpredictable future. And up till now, I still keep the habit, no matter how, I always try to save even a little amount of money..

Two weeks ago, senpai Joni who came to Tokyo from Kyushu island, visited me in Odaiba. It’s been more than 4 years since we last met. We talked a lot and then we came up to the topic of his plan to get Lasik due to the measurement that he had when he planned to buy softlens.
I’ll try to write in the view of an ordinary ppl like me, since I’m not good in those technical terms. (please somebody correct me if I made mistake, as I wrote what I remembered and no more googling to the source while writing this, ha ha..)
Practically, wearing soft lens will prevent the transmission of the oxygen reaching the cornea surface. And there’s one layer higher from the cornea that consists of living cells, he said that 3,000 cells are the normal amount. Once we put on the soft lens which blocking the oxygen transmission, it then cause the dying cells, and by the decrease of the living cells in specified amount ( if i’m not mistaken less than 2,000 cells is already indicated the danger. Simply saying the less it is, the possibility of blind is higher).

I then recalled to my Lasik plan that popped my mind last year. I think I should find out more about the procedures and hopefully I can have my Lasik during my stay in Japan.

Beside Lasik, actually my mommy has complained a lot of my ugly teeth as they’re not neat, she’s kept asking me to go for the orthodontic-straightening teeth treatment. One of my friend here had passed thru the treatment, she got the installment for 3 years, ha ha.. (the price can be total up to about 800,000 yen, LOL)
Umm, should I go for it? So just let those two in my wish list :
1) Eye Laser Lasik the main priority
2) Inviting mom and dad to Japan
3) Orthodontic

Ihik, need to save moreee.. hope i can omit one of the wish list by next March. Amen!!

Read Full Post »

Hari ini tepat 4 bulan sudah diriku di Tokyo dan yg menyenangkan hari ini adalah remittance scholarship masuk, acikk.. Dan tadi dah kepikiran mau nulis mengenai cara menyiasati cash flow. Eh si Susi juga ternyata juga posting hal yang intinya kurang lebih sama. 🙂

Memasuki bulan ke-4, gua kurang lebih sudah bisa memprediksi pengeluaran gue, mou naremashita ne. Ga spt di bulan pertama, acak kadut berantakan, banyak pengeluaran untuk kebutuhan primer, dari mulai kulkas, sepeda, panci, gordyn, hal2 kecil lainnya..
Pendataannya juga berantakan, nota2 numpuk.. Tapi akhirnya gua benahi juga, dari situ sadar bulan pertama sudah hampir lebih besar pasak daripada tiang.. Jadi wish list dicicil buat bulan berikutnya. Sampai sekarang gua juga berusaha supaya tiap bulan ada duit yg disisihkan untuk ditabung, komitmen minimal 10% dari remittance yg gua terima.. (well, tidak seperti di Indo, gua nabung bisa 50%-80% dari salary)

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Nah habit menabung itu sendiri sebenarnya sudah dididik semenjak kecil dari papa.
Kilas balik : Gua masih ingat bagaimana papa slalu berusaha menyisihkan duit sesusah apapun kondisi ekonomi kita dulu. Dan papa juga ga bosan2nya mendidik bagaimana kita harus rajin menabung, menggandakan uang dgn berinvestasi (beli valas, deposito,dll).
Cara didikan papa ini berkaca dari pengalaman semasa papa kuliah kedokteran dulu di Trisakti.
Sebagai anak bungsu dari 11 bersaudara, papa disupport oleh om2 (saudara kandung papa), tapi akhirnya kuliah papa putus di tengah jalan dikarenakan :
Pertama, Suntikan dana dari om2(saudara papa) yg kian hari kian berkurang dikarenakan perubahan status berkeluarga. Anggaran Dasar Rumah Tangga juga jadi lebih tinggi dan harus dikontrol, so para istri om juga rada keberatan mensupport papa. (dulu wkt kecil gua belum mengerti hal ini dan ga nerima pas dikasi penjelasan dari papa, trasa kejam aja tapi skrg gua mengerti bagaimana orang yg sudah membina rumah tangga harus mengatur keuangan buat kelangsungan keluarga inti mereka juga).

Kedua, Walopun ada suntikan dana, tapi masih kurang mencukupi dan seringnya memasuki pertengahan bulan, papa sudah harus mengencangkan pinggang. Makan seminimal mungkin, dan belajar dengan kondisi perut kelaparan sehingga tidak bisa konsentrasi pada saat kuliah.
Kerja part time sudah papa lakukan tapi tidak begitu memungkinkan dikarenakan jadwal kedokteran cukup padat.

Singkat cerita, suntikan dana yg tidak tetap nan kian hari kian berkurang nominalnya yg bahkan akhirnya terhenti sehingga papa benar2 menjadi Anak Putus Kuliah.

Dari itulah, papa tidak mau anak2nya kelaperan krn ga ada duit, yg akhirnya ga konsentrasi pas pelajaran, jadi kita selalu duit lebih dari cukup buat beli makanan di sekolah in case lapar. Tapi kita juga diajarkan harus bisa memanajemen antara kapan spend money untuk hal yg kita butuh dimana tetep harus inget nabung. Tabungan akan berguna pada saat dibutuhkan dana darurat. (Jangan mengharapkan dari orang lain!! itu pesan papa).

Dari semenjak bayi, gua sudah sering ditongkrongin di toko (toko nya foto studio kecil2an + foto copy + stationery). Nah pas TK sudah diajarkan jadi kasir, SD belajar foto copy, terus juga garap project2 di sekolah dan tempat kursus, promosi papa tukang foto copy jadi tiap kali ada foto copy-an.. jadinya dikasi ke gua.. *walopun ikutan lembur bantu foto copy sampe tengah malem, tapi seneng.. lumayan nambah omset mama papa* Di sekolah gua dicap sbg anak tukang foto copy dhe. Jajan pun mengalir lancar : jajan harian, mingguan dan bulanan. Nah gue tuh tiap minggu pasti ke bank dhe buat nabung.. Rajin nabung di BII dan Tahapan Lippo Yunior sampe dapet hadiah ber-set2 dan bahkan dapat undian (adik gue dapet kulkas).

Dengan duit yg ada, dispend buat having fun ama teman kadangan nonton, makan di resto, terus juga spend buat hari2 special, misalnya hari ibu. Gua inget bagaimana gue  memprovokasi ade2 gue buat kasih hadiah cincin emas buat mama. Abis dari kursus, gue ke pasar tradisional menuju ke toko emas dan milih cincin buat mama. Yg jaga toko juga ragu gua punya duit atau ga. haha. Abis itu, gua cari kotak cincin yg bagus di plaza deket rumah, bilang ke nyokap mau main internet tapi boong buat bikin kejutan. 🙂 Alhasil mama surprise dgn hadiah dari anak2nya ini + kartu yg diisi dengan puisi dan ditulis dengan indah. 😀  Sampe sekarang cincinnya masih dipakai mama. 🙂

Gua semakin giat menabung di kala gua sempat dikagetkan kedatangan staf bank yg ingin mengusir kita terkait dengan sertifikat rumah(rumah yg ditempati adalah rumah sewa). Adik2 gua masih ga ngerti saat itu, cuman gue yg sempat denger pembicaraan antara pegawai bank dan papa. Sedih dan tertekan sekali waktu itu, baru tahu ternyata rumah yg selama ini ditempati bukan rumah sendiri melainkan rumah sewa dan harus siap2 angkat kaki dari rumah..:( (But thanks god, gua tau apa yg terjadi, kita tidak diusir)

Back to the saving topic.. Apa yg papa wanti2in bener, pada saat kuliah butuh dana yg gede.
Semenjak kelas 1 SMA, papa sudah coba berbagai usaha selain toko foto copy, krn pengen ngumpulin duit buat kuliah putri tunggalnya ini. Hueleh.. Dari berladang cabe, walet, ternak sapi.. tapi not good ones, they all ended up.
Gua diminta kuliah di Medan saja, sekalian tetep bantu jaga toko.. Tapi gue pengennya ke luar dari Medan, temen2 yg lain pada ke LN : Malaysia, Singapore, Australia, Jerman. Sedangkan gua masih tidak jelas. NUS tidak keterima krn NEM di angkatan gue pada hancur (pertama kali diterapkan computer based, ga ada satupun siswa yg NEMnya masuk kriteria NUS).
Antara mau ke Jkt dan Malaysia. Di Jakarta karena ada sepupu, sedangkan di Malaysia krn diconvince teman kalau expensesnya itu sama dengan di Jkt. Itu masa2 dimana gue rajin ke pameran pendidikan, ngumpulin brosur dan akhirnya bikin proposal ke papa buat bahan pertimbangan mana yang bakal diapprove.
Diskusi kian panjang, papa minta supaya kuliah di Medan, tapi bersikeras pengen keluar.
Dan tidak tahu bagaimana ceritanya akhirnya diputuskan di Jkt dan duit yg bisa papa supply adalah duit untuk 1 tahun saja (itu juga papa jadi jual mobil). Dan disinilah tabungan akhirnya dibutuhkan!

Kuliah jauh dari orang tua, sudah membuat mama papa kuatir. Krn dulu nginep atau acara perpisahan aja yg harus nginep ga dibolehin ama papa sangkin strict nya.
Well, hidup merantau ini lah yg membuat gua belajar bagaimana hidup mandiri. Belajar mengatur keuangan (bikin file expenses). Inget dulu sangkin hematnya, makan di 888 cuman sekitar 1500 rupiah.. halah, makannya cuman orek ama telur dadar. Semester 2 belajar earn some money, ngajar les di tanjung duren. Kemudian semester 4 diterima sbg ast lab.
Duit sih tidak seberapa (thn 2004 : 600rb). Tapi di masa ini juga, gua sempat ikutan asuransi pendidikan buat adik bungsu (krn kepikiran dia juga khan ntar kudu kuliah dan butuh dana).
Yah, gua berterima kasih juga krn selalu ada aja rezeki, kadangan dapat beasiswa semesteran dari nilai IPK yg pas memenuhi kriteria, atau ngajar les. So akhirnya lulus juga. Papa senangnya minta ampun, hehehe..

Kerja pertama setelah keluar dari asistensi gue, dapat salary yg signifikan banget. Akhirnya disini mulai bisa nabung lagi stlh 3tahun 1/2 saldo bank tiap bulannya hampir sama mulu. Mulai bisa ngirim duit bulanan juga buat mama papa, bisa nekat beli biola padahal belum dapat tempat les. sampe akhirnya kesampean les biola dhe.. hehe..

Dan kemudian pindah kerja, gua lebih makmur lagi, duit transport aja dah lebih dari 1/2 salary dari tempat sebelumnya. Terus ada basic salary + bonus. Disini duit mulai terkumpul, dan akhirnya nabung, bisa bantu adik kedua yg mau starting molding company. Terus bisa buat DP mobil. Seneng banget rasanya. (Ah I miss the red “bobi”).

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Nah sampe sekarang habit catat mencatat income & expenses tetep jalan donks. Di Indo sudah dibuat pembagian rekening yg dibuat terpisah :
1) Rekening untuk kebutuhan pengeluaran sehari2.
2) Rekening salary. Sebagian disisihkan, sisa di rekening buat dana darurat.
3) Rekening bersama.
Rekening 2) dan 3) sebagian di-switch and activate ke investasi (deposito, valas, reksadana, atau saham).

Kalau disini gua juga menerapkan pencatatan yg bahkan lebih detil.
Kategori perkiraan yg gua buat : food(snack), shopping(bhn2 masak), transport, housing + Utilities, communication (HP, Internet, prepaid International Call), Medicine, Cosmetics, Others (Fixed Asset gitu), dan future cost. Huehue.. semua gua bikin detil, spt belanja bahan buat masak, gua tetep list satu persatu instead of food supply XXXX yen.

Dan ternyata hasil analisanya adalah :
Food(snack) cukup boros! Yg artinya : kurangi ngemil!! hehee
Communication ama transport juga agak tinggi. Jadi sudah mengambil langkah lebih lanjut.

Bulan kemaren bener2 broke! Banyak pengeluaran dari perkiraan “others” : TV, kipas angin, kasur angin, juga pendaftaran buat ujian. Hualah, bulan ini harus nabung lebih banyak!

Gua akan terus belajar mengontrol finansial, dan berusaha bijak mengelolanya (kapan harus nabung extra, kapan memang harus spend money, kapan harus bersabar mewujudkan wish list supaya cash flow nya lancar :D).

Sabar mencoret satu persatu wish list itu memang butuh waktu krn duit ga jatuh dari langit, sedangkan gua adalah manusia yg tidak pernah puas, wish list gue banyak. 😀 Gua juga belajar bagaimana gua harus bersyukur masih bisa mewujudkan wish list perlahan tapi pasti  karena gua pernah ngalami hal2 yg lebih susah. Jadi apalah artinya wish list tertunda.. wong ini hidupnya senang kok tanpa wish list yg belum kesampean itu..

Terus tips untuk alasan terlalu sibuk/malas update file, well, paling ga notanya disimpan dulu, ntar setelah seminggu sekalian di-update. Atau ditulis di message hp supaya ga lupa (utk pembelian yg ga ada nota).

Akhir cerita postingan ini, ayo bareng2 jeli benahi finansial kita dan rajin nabung.. *peace*

Read Full Post »